Senin, 18 April 2016

Di balik Bom Bunuh Diri di Kantor CIA di Pakistan

CIA (Intelijen)
CIA (Intelijen)
Petugas intelijen Pakistan mengucurkan dana sebesar  200.000 dollar AS atau lebih dari Rp 2 miliar, untuk membayar jaringan ekstrimis melakukan aksi bom bunuh diri di Kantor intelijen AS, CIA di Pakistan, tahun 2009 silam.
Informasi ini terungkap dalam sebuah dokumen di lingkungan Pemerintah AS yang dibeberkan oleh sebuah grup riset independen. Demikian diberitakan Reuters, Jumat (15/4/2016).
Dokumen itu diperoleh dari arsip Keamanan Nasional olehsebuah lembaga penelitian non-pemerintah di Universitas George Washington.
Di dalam data itu terungkap bahwa agen mata-mata Pakistan, Direktorat Inter-Services Intelligence, dan jaringan Haqqani terlibat dalam perencanaan serangan itu.
Pada 30 Desember 2009, terjadi serangan bom bunuh diri di depan kantor CIA di Khost, sebelah timur Afganistan. Bom tersebut dibawa oleh seorang doktor asal Jordania yang belakangan diketahui bekerja sebagai agen ganda bagi Taliban dan Al Qaeda.
Kejadian itu merupakan salah satu serangan paling efektif yang pernah dilancarkan ke badan intelijen tersebut. Tujuh orang tewas dan enam lainnya terluka.
Dalam dokumen per Februari 2010 menyebutkan, seorang intelijen Pakistan yang tak diungkap identitasnya menyediakan dana 200.00 dollar AS tersebut untuk Haqqani dan satu orang lainnya, demi terlaksananya serangan itu.
“Seorang komandan Afganistan di perbatasan Khost dijanjikan uang 100.000 ribu dollar AS, untuk membuka fasilitas dalam serangan itu. Namun komandan itu ikut tewas dalam serangan tersebut,” demikian bunyi laporan itu.
Hingga berita ini diturunkan, Jurubicara di Kedutaan Besar Pakistan di Washington belum memberikan tanggapan atas terungkapnya data itu.
Selain itu, karena dokumen itu mengalami sejumlah sensor, maka belum jelas apakah aksi itu merupakan keputusan lembaga intelijen di Pakistan, atau hanya tindakan kelompok tertentu.
Satu baris kalimat dalam dokumen itu menyebut, “Informasi dalam laporan ini belum sepenuhnya tuntas ditangani oleh intelijen.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar