Selasa, 19 April 2016

Terungkap! Inilah Sejarah Hari Maritim

Nakhoda Agung

Satu babak hidup Soekarno yang tidak banyak diketahui, salah satunya adalah penyematan gelar kepada beliau sebagai Nakhoda Agung. Latar belakang pemberian gelar ini sangat panjang, intinya, Soekarno dianggap sosok yang juga sangat penting bagi kelautan Indonesia.
Melalui Surat Keputusan No 249 tahun 1964, Presiden Soekarno menetapkan 23 September menjadi Hari Maritim. Cukup lama bangsa ini alfa merayakannya. Terlupakan.
Suasana di sekitar Jalan Prapatan, Jakarta riuh. Hari itu, 23 September 1963, Indonesia menghelat Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I. Lokasinya di sekitar Tugu Tani sekarang ini.
Semula, acara hendak digelar di Istana Negara.
Hanya saja, karena Istana sedang direnovasi, maka dipindahkan ke Jalan Prapatan.
Untung baiknya, acara malah, “…waaah lebih meriah. Lebih segar daripada kita resepsi di Istana Negara. Megap-megap karena kepanasan,” kata Bung Karno, sebagaimana dicuplik dari buku Kembalilah Mendjadi Bangsa Samudera!–Amanat Presiden Sukarno pada Munas Maritim ke-I, terbitan Departemen Penerangan RI, 1963.
Malam itu, Presiden Soekarno didaulat menjadi Nakhoda Agung. Ia dikenakan kalung, yang menurutnya, amat indah sekali.
Setahun kemudian. Pada 24 September 1964, Bung Karno menerbitkan SK Nomor 249/1964. SK itu menetapkan tanggal 23 September menjadi Hari Maritim.

Hari Maritim Berganti Hari Bahari Seiring dengan Pergantian Presiden Soekarno ke Soeharto

Menyusul peristiwa G30S 1965, haluan berubah. Soekarno berganti Soeharto.
Indonesia yang dinakhodai Presiden Soeharto merayakan Hari Bahari pada 23 September 1968 di Manado.
Ya, meski diperingati pada tanggal yang sama, rezim yang ini menyebutnya Hari Bahari. Bukan lagi Hari Maritim.
Dan, di tahun-tahun berikutnya…sudah bisa ditebak, bangsa Indonesia alfa mengenangnya. Meski digadang-gadang nenek moyangnya adalah bangsa pelaut, bangsa ini seolah lupa lautan.
Hari Maritim benar-benar terlupakan, hingga Jokowi terpilih menjadi Presiden Indonesia. Menyampaikan pidato pamungkasnya di geladak kapal Phinisi, Jokowi menyeru bangsa ini kembali ke jati dirinya sebagai bangsa maritim.
Poros maritim dunia! Begitu jargonnya. Maka, dibentuklah Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman–kemudian Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya.
Kementrian ini sebetulnya pernah ada di zaman Soekarno. Periode 27 Agustus 1964-22 Februari 1966, dijabat oleh Ali Sadikin.
Posisi Bang Ali–begitu mantan Gubernur Jakarta Raya itu biasa disapa–digantikan Jatidjan pada 25 Juli 1966. Setelah itu dihapuskan.
Barulah pada 27 Oktober 2014, Kabinet Kerja Jokowi-JK mengadakan lagi kementrian ini.
Orang yang dipercaya menjabatnya Dwisuryo Indroyono Soesilo. Belum genap setahun, pada 12 Agustus 2015, Presiden Jokowi meminta Rizal Ramli menempati posisi tersebut.

Hari Maritim

Kamis, 15 Oktober 2015. Kementrian ini melakukan kerja sejarahnya. Mereka menghelatFocus Group Discusion (FGD) untuk menetapkan Hari Maritim.
Pembicara utama dalam diskusi terbatas tersebut Amurwani Dwi Lestariningsih (Plt. Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan), Kolonel Ronny Turangan (Kepala Subdisjarah TNI AL), dan…maaf, saya. Seorang rakyat biasa.
Semua pembicara bersejarah. Dan  mengusulkan sejumlah tanggal di penghujung ceritanya.
Saya datang ke FGD itu membawa dua bundel arsip. Dokumen pertempuran laut pertama yang dilakoni dan dimenangkan angkatan perang Indonesia, 5 April 1946. Dan dokumen Munas Maritim pertama, 23 September 1963.
Hingga hari itu, saya belum tahu, ternyata Presiden Soekarno pernah menerbitkan SK No 249 tahun 1964. SK yang menetapkan 23 September–landasannya Munas Maritim I– menjadi Hari Maritim.
Nah, karena dipercaya mengampuh kanal sejarah, rubrik Historiana ini oleh Pak Bos Jawa Pos National Network, hari ke hari tentulah kerja kami membuka dan memeriksa lagi arsip, dokumen lembaran-lembaran masa lalu.
Awal pekan ini alam raya berkehendak. Kami dipertemukan dengan informasi penting; Indonesia punya Hari Maritim. Yakni 23 September.

Mengungkap Sosok Nyoman Rai Srimben

Mungkin selama ini tak banyak yang mengupas sosok Nyoman Rai Srimben. Padahal perempuan ini secara tak langsung memiliki andil dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 
Ya, Srimben, yang merupakan perempuan kelahiran Lingkungan Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng itu, adalah ibu kandung dari Ir. Soekarno, sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia
135931_464501_soekarno_ibu.jpg
Keluarga bale agung datang ke Blitar pasca 40 hari meninggalnya Ni Nyoman Srimben, ibunda Ir Soekarno. FOTO: Repro Eka rasetya/Baliexpressnews.com

Tak mudah melacak kisah kehidupan Rai Srimben di Bale Agung. Minimnya catatan sejarah, menyebabkan sosok Rai Srimben kurang begitu dikenal.
Namanya baru dikenal dan banyak muncul dalam catatan media-media di Indonesia, setelah Soekarno menduduki kursi kepresidenan. Sebelum itu praktis tak ada catatan yang muncul.
Saat ini ada dua orang penutur yang juga tokoh di Lingkungan Bale Agung, yang paham betul dengan kisah hidup Rai Srimben.
Mereka adalah Gede Pastika dan Made Hardika. Keduanya mempertahankan cerita yang berasal dari tutur pendahulunya. Keduanya mempertahankan cerita itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan-tulisan sederhana, termasuk dalam bentuk rekaman suara.
Tak ada data sahih soal kelahiran Nyoman Rai Srimben. Namun dia diperkirakan lahir pada tahun 1881 silam. Srimben berasal dari keluarga rohaniawan yang mengurus masalah keagamaan dan adat istiadat di Pura Bale Agung. Ayahnya, I Nyoman Pasek adalah pemangku di Pura Bale Agung.
Sementara ibunya, Ni Made Liran adalah wanita Bali yang mengurus masalah upakara dan upacara di Pura Bale Agung. Dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran, lahirlah I Made Pasek dan Nyoman Rai Srimben.
Tidak banyak yang tahu bahwa Srimben lahir dari keluarga yang bisa dikatakan broken home. Ayahnya menikah memiliki istri kedua yang bernama Ni Sukenyeri.
Ni Sukenyeri dan Ni Made Liran sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan, karena memang pada saat itu perkawinan di perbekelan (istilah desa pada zaman tersebut, Red) Bale Agung hanya berlangsung antar kerabat saja.
Karena ogah dimadu, Ni Made Liran memilih pulang ke rumahnya semasa gadis. Antara rumah Ni Made Liran semasa gadis dengan semasa menikah dengan I Nyoman Pasek, jaraknya tak sampai 40 meter.
“Terus terang masa kecil Nyoman Rai Srimben, kalau sekarang itu istilahnya broken home. Ibunya Srimben, Ni Made Liran, walaupun dimadu dengan saudara sendiri, sebenarnya dia tidak ikhlas juga dimadu. Akhirnya tinggal di rumah bajang (gadis, Red) sampai Ni Made Liran sakit dan meninggal dunia.
Waktu itu Rai Srimben masih kecil,” jelas Made Hardika yang ditemui di Pura Bale Agung, Kamis (7/4). Dari cerita turun temurun, menurut Hardika, Srimben tinggal bersama ayahnya I Nyoman Pasek, hingga usia lima tahun saja.
Selebihnya ia tinggal bersama ibunya di rumah semasa gadis. Begitu ibunya mangkat, Srimben diasuh oleh Ni Ketut Nesa yang tak lain adik dari Ni Made Liran.
Sejak usia lima tahun hingga akhirnya menikah dengan Raden Soekemi Sosrodiharjo, Nyoman Rai Srimben diasuh oleh Ni Ketut Nesa. Semasa remaja, Nyoman Rai Srimben lebih banyak beraktivitas di Lingkungan Bale Agung. Srimben tak pernah mengenyam pendidikan formal. Karena berasal dari keluarga pemuka agama, Srimben juga banyak bersentuhan dengan kegiatan adat dan keagamaan.
Ia diketahui bergabung dengan pesaren atau Sekaa Truni pada masa itu. Tugasnya di pesaren adalah menarikan tari rejang yang sakral setiap kali piodalan di Pura Bale Agung. Selain itu ia juga lebih banyak menenun membuat kain songket atau kain endek.
“Pada zaman itu tempat paling efektif bersosialisasi di kalangan wanita itu, selain di upacara yadnya, ya saat menenun,” imbuh Hardika. Singkat cerita Nyoman Rai Srimben bertemu dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo pada tahun 1890-an.
Raden Soekeni yang saat itu ditugaskan sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) 1 Singaraja – kini SDN 1 Paket Agung – oleh pemerintahan kolonial, jatuh cinta pada Srimben saat melihat Srimben menari rejang di Pura Bale Agung, tepat saat umanis galungan.
Saat itu Soekeni yang memiliki darah biru dari Panembahan Senopati dan Sunan Kalijaga itu sempat melempar Srimben menggunakan bunga cempaka. Konon Soekeni sudah sering melihat Srimben saat menenun.
Keduanya kemudian kawin lari. Kawin lari adalah hal yang sangat ditentang oleh penglingsir di Bale Agung. Pernikahan itu dianggap melanggar tradisi yang ada, karena di Bale Agung, wanita tak boleh dipersunting pihak luar.
Pernikahan itu pun menyebabkan Raden Sukemi harus menjalani persidangan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menganggap Sukemi menyebabkan kegaduhan di masyarakat, kegelisahan para tokoh, dan kekacauan pada sistem tatanan adat di Bale Agung.
Soekeni saat itu dijatuhi sanksi denda sebesar 40 ringgit, karena terbukti menyebabkan kegaduhan. Salah satunya melakukan pernikahan dalam tradisi Jawa, tanpa persetujuan keluarga, atau yang kini dikenal dengan kawin lari.
Denda itu akhirnya dibayar Nyoman Rai Srimben dengan perhiasan yang ia miliki. Soekeni dan Srimben akhirnya tinggal di wilayah perbekelan Banjar Paketan, tepatnya di rumah Pan Sedana Mertia.
Sejak kawin lari, Srimben pun tak pernah pulang ke rumah gadisnya di perbekelan Bale Agung, meskipun jaraknya tak seberapa jauh.
Rumah yang ditinggali Soekeni dan Srimben sempat roboh karena usianya yang sudah terlampau tua. Namun rumah itu kembali dibangun dalam bentuk yang persis sama, hanya bahan bangunannya yang berbeda. Rumah itu kini dimiliki Komang Suma Artana, yang juga Kepala Lingkungan Banjar Paketan.
Semasa tinggal di rumah tersebut, Nyoman Rai Srimben melahirkan anak pertamanya, yakni Soekarmini. Raden Soekeni Sosrodiharjo, Nyoman Rai Srimben, dan Soekarmini akhirnya diboyong ke Surabaya pada tahun 1900.
Hingga akhirnya ia melahirkan Ir. Soekarno di Jalan Kepandean, dekat Paneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1901. Srimben pun tak pernah kembali lagi ke rumah gadisnya hingga mangkat pada Jumat Kliwon, 12 September 1958. [source]

Salah Kaprah Sejarah Bung Karno

Putra mantan Presiden RI Soekarno (Bung Karno) Guruh Soekarnoputra saat berikan sambutan pada peringatan Hari Lahir 112 Tahun Bung Karno di Gedung Perintis Kemerdekaan, Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Foto: Tempo
Putra mantan Presiden RI Soekarno (Bung Karno) Guruh Soekarnoputra saat berikan sambutan pada peringatan Hari Lahir 112 Tahun Bung Karno di Gedung Perintis Kemerdekaan, Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Foto: Tempo
Guruh Sukarnoputra, putra Presiden pertama Indonesia Sukarno, mengungkapkan beberapa koreksi atau pelurusan terkait pemahaman masyarakat yang dianggapnya keliru tentang mendiang ayahandanya yang sering dijuluki “Sang Proklamator” itu. Sabtu 6 Juni 2015, saat berpidato dalam acara penerbitan Buku “Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid II)” di Gedung Pola, Jakarta, Guruh berbicara panjang soal banyaknya kesalah kaprahan yang selama ini terjadi. Acara itu sekaligus digelar untuk merayakan 114 tahun kelahiran Sukarno.

Tempat Lahir

Misalnya saja soal tempat lahir Sukarno. Menurut Guruh, urusan tempat tanggal lahir, juga banyak yang salah. “Di buku-buku pelajaran sekolah dan ensiklopedia masih saja menyebutkan tempat lahir Bung Karno di Blitar, padahal sebenarnya di Surabaya,” kata Guruh.

Nama

Kesalahan lainnya adalah menuliskan nama presiden pertama Indonesia ini. Menurut Guruh, penulisan nama ayahnya yang bener dengan huruf u. “Yang benar adalah Sukarno, dengan u, bukan Soekarno,” tuturnya.
Pernyataan tersebut didukung dengan bukti langsung ucapan Bung Karno yang dimuat dalam halaman 32 buku autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams. Guruh kemudian membacakan kutipan pernyataan Bung Karno dalam buku berjudul “Sukarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” itu.
“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno, sesuai ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan agar semua oe diterjemahkan kembali menjadi u. Nama Soekarno menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku masih menulis Soe,” kata Guruh membacakan buku Cindy.

Kepanjangan Jasmerah

Hal lainnya yang perlu diluruskan adalah kepanjangan dari kata “Jasmerah” yang merupakan judul pidato kenegaraan Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1966. Jasmerah, menurut Guruh, sering disebut pemerintahan zaman Orde Baru supaya konotasinya Bung Karno identik dengan PKI. “Padahal Jasmerah itu kan artinya jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, tapi orang banyak keliru mengartikannya jadi jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Melupakan dan meninggalkan itu beda jauh,” kata Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra itu.

Istilah Orde Lama

Catatan Guruh selanjutnya adalah soal pemerintahan Sukarno yang disebut sebagai zaman Orde Lama. Putra bungsu Sukarno dari pernikahannya dengan Fatmawati itu membantah pengertian tersebut. “Jika menyebut Bung Karno Orde Lama itu suatu penghinaan. Bung Karno sendiri anti Orde Lama karena Orde Lama adalah keadaan pada saat manusia Indonesia masih dengan mental dijajah atau zaman kolonialisme. Kalau mau bilang ya sebut saja pemerintahan masa Bung Karno, bukan pemerintahan masa Orla,” katanya.
Menurut Guruh, berbagai pemahaman yang keliru tentang Sukarno tersebut, dikarenakan praktik politik kaum neokolonialisme dan imperialisme (nekolim) pada masa Orba yang dengan sengaja mematikan atau mengubur dalam-dalam segala fakta tentang Sukarno dan keluarganya, bahkan juga ajaran-ajaran nasionalisme yang digagasnya.

Tidak melaksanakan wasiat

Bahkan wasiat Bung Karno untuk minta dimakamkan di daerah Priangan, Jawa Barat pun tidak pernah terlaksana karena mantan Presiden Soeharto yang merupakan tokoh utama pemerintahan Orba, memerintahkan agar Bung Karno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
“Bung Karno dalam wasiatnya sering bilang, kalau saya meninggal nanti saya ingin dimakamkan di Priangan dimana banyak pegunungan dan sungai mengalir. Saya cukup dikuburkan di sebuah pohon rindang. Makam saya tidak usah diapa-apakan, tidak usah diberi nisan dan tulisan macam-macam. Cukup batu sederhana dengan tulisan Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,” kenang Guruh.

Penyebutan hanya untuk pencitraan

Guruh pun menyesalkan bahwa perlakuan bangsa Indonesia terhadap Sukarno hingga detik ini masih tidak pada tempatnya. Dia mengklaim bahwa nama besar ayahnya kerapkali hanya dijadikan bahan untuk “jualan” atau sebagai etalase para pemilik kepentingan entah itu pribadi maupun golongan.
“Orang menyatakan diri sebagai pencinta Bung Karno tapi hanya layaknya mencintai selebriti. Mereka hanya mengagumi sosoknya, tapi tidak ada yang belajar pemikiran Sukarno. Jangankan pemikiran, riwayat (hidupnya) saja banyak yang tidak tahu,” kata Guruh.

Kesengajaan Penyematan Istilah Sukarno-Hatta

Guruh juga prihatin mengetahui banyak generasi muda yang beranggapan bahwa nama Sukarno selalu identik dengan Hatta, seakan mereka berdua adalah orang yang sama, jadi seperti “Sukarno bin Hatta”.
“Menjelang tahun 1985 ketika mau peresmian bandara internasional Cengkareng diberilah nama bandara itu Soekarno-Hatta. Jalan-jalan juga begitu. Seolah-olah Sukarno tidak ada apa-apanya tanpa Hatta, begitu pun sebaliknya. Padahal mereka adalah dua pribadi berbeda yang sama-sama kuat berjuang dengan pemikiran dan gagasan cemerlang hingga mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan,” ujarnya.

Cindy Adams, CIA & Kejanggalan Buku “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia”

Bung Karno & Cindy Adams (rosodaras.wordpress.com)
Bung Karno & Cindy Adams (rosodaras.wordpress.com)
Bulan Juni adalah bulan milik Sukarno. Presiden Indonesia pertama itu lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan tutup usia di Jakarta pada 21 Juni 1970. Cerita hidup Sukarno tertuang dalam beragam judul buku. Namun judul buku paling terkenal justru ditulis oleh jurnalis wanita Amerika Serikat, Cindy Adams.
Cindy menulis buku legendaris Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia). Ia dipercaya Sukarno menuliskan perjalanan hidupnya. Sesuatu yang zaman itu membingungkan banyak orang, karena pers Amerika kala itu dikenal ganas kepada Sukarno.
Sementara Sukarno sendiri tengah galak-galaknya mengumandangkan anti-imperialisme. Tapi justru kepada bekas pemandu sorak di Andrew Jackson High School, St Albans, Long Island, ini Sukarno seolah-olah tak menyembunyikan segala sesuatu, termasuk hal-hal personalnya. Buku itu menjadi sangat populer karena menceritakan seorang Sukarno yang penuh warna.
Cindy pertama kali bertemu dengan Sukarno pada 1961 di Istana Merdeka. Saat itu ia bekerja di NANA—North American Newspaper Alliance. Ia ikut rombongan kesenian Amerika yang dipimpin suaminya, Joey Adams, komedian yang ditunjuk John F. Kennedy mengepalai kunjungan seni keliling Asia.
Saat kembali ke negerinya, Cindy dihubungi oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Mereka mengabarkan bahwa Presiden Indonesia mengundang Cindy datang untuk menuliskan kisah hidupnya. Sejak itu, hidup Cindy terbagi antara Jakarta dan New York.
Proses penulisan berlangsung antara 1961 dan 1964. Cindy menginap di Hotel Indonesia sebagai tamu negara. Tiap pagi ia ke Istana, melakukan wawancara seraya menikmati kopi tubruk. Buku itu terbit pada 1965, sebulan setelah peristiwa 30 September. Penerbitnya The Bobbs-Merrill Company Inc, New York.
Proses penulisan tak berjalan mulus. Cindy bertengkar dengan Sukarno menjelang penerbitan buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. Sukarno mendadak berubah pikiran setelah membaca manuskrip otobiografinya.
Sukarno tak ingin buku itu ditulis dengan model penulisan kalimat “saya”, yang berarti dia sendiri yang secara langsung mengisahkan riwayatnya kepada pembaca. “Saya sudah putuskan saya tak menginginkan otobiografi ini. Aku ingin sebuah biografi. Tulis ulang!” kata Sukarno.
“Itu tidak mungkin,” ujar Cindy. Dia beralasan, sejak awal, mereka telah sepakat menulis otobiografi. Dia juga sudah menandatangani kontrak dengan berbagai penerbit dunia untuk sebuah buku otobiografi. “Butuh waktu enam bulan siang dan malam menulis di rumah untuk manuskrip yang kuserahkan kepada Anda,” kata Cindy.

Cindy Adam Agen CIA?

Pertengkaran terus berlanjut sampai akhirnya Cindy mengaku bahwa dia khawatir akan kehilangan muka di hadapan para penerbit. Sukarno pun melunak, bahkan atas desakan Cindy hari itu pula Sukarno menandatangani surat persetujuan penerbitan buku otobiografi tersebut.
Ada yang mengatakan Cindy masa-masa itu dimanfaatkan oleh Howard Jones, yang bagi banyak orang adalah duta besar yang dekat dengan Badan Intelijen Amerika (CIA). Kala itu terjadi krisis hubungan antara Sukarno dan Amerika. Howard Jones membutuhkan seorang Amerika yang bisa menyenangkan Sukarno dengan membuat otobiografinya. Ia juga dibutuhkan untuk melaporkan situasi terakhir Sukarno dari dalam Istana sendiri.
Dalam buku keduanya, My Friend the Dictator, Cindy secara jujur mengatakan selama di Jakarta banyak tokoh yang menyangkanya agen CIA. Sebagai penulis biografi Sukarno, dia diberi keleluasaan dan akses untuk mengorek banyak tokoh politik. Tapi, diakui Cindy, ada beberapa yang tak mau karena menganggapnya agen CIA. Sukarni dan Achmad Subardjo di antaranya.
Ketika Redaksi Tempo menanyakan apakah Cindy memang benar seorang agen CIA yang disusupkan Howard Jones, dahinya agak berkerinyut. Ia seolah-olah ingat masa lalunya di sini, tatkala sebagian orang mencurigainya sebagai kaki tangan CIA. Secara tegas dan cepat dia menjawab, “Itu hal yang paling mudah untuk diucapkan, tapi saya bukan CIA.”

Bung Karno ketika diwawancarai Cindy Adams

Di kalangan para Sukarnois (orang yang terpikat dengan bung karno baik dari segi pemikiran, cara bicaranya atau penampilan Sukarno) tentu nama Cindy Adams tidaklah asing lagi. Pasalnya, Cindy Adams merupakan satu-satunya penulis yang berhasil menuliskan autobiografi bung Karno. Wawancara mengenai pembuatan buku tersebut dilakukan di tahun 1964, namun wawancara yang akan saya post disini merupakan wawancara setelah pemberontakan G30S (beberapa menyebutkan PKI dibelakang) sekitar tahun 1966.
Cindy menanyakan kepada Bung Karno “Menurut anda siapakah pemegang kekuasaan di Indonesia saat ini?” Hal ini ditanyakan karena adanya perebutan kekuasaan oleh Soeharto dan beliau pasca G30S.
Bung Karno menjawab dengan percaya diri sesuai dengan ciri khasnya “Saya kira yang berkuasa adalah Presiden Sukarno, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Mandataris MPR, Perdana Menteri dan Pemimpin Revolusi” jawab beliau sambil tersenyum.
Kemudian Cindy kembali menanya bung Karno kali ini soal G30S “Apakah Anda sudah mengetahui mengenai rencana Kudeta Gerakan 30 September?
Ditanya mengenai hal demikian wajah Presiden Sukarno agak terkejut. Pasalnya, pada saat itu banyak yang menuduh Bung Karno terlibat pemberontakan tersebut, meskipun hingga akhirnya Sukarno tidak terbukti terlibat. Melihat wajah kaget bung Karno Cindy pun mengulang pertanyaannya.
Sukarno menjawab “..Tidak! Tidak! Kenapa kau menanyakan hal ini padaku?” jawab Bung Karno.
Cindy Adams pun memberi tahu alasan ia menanyakan hal tersebut yaitu karena Bung Karno adalah satu-satunya yang bisa menjawab hal tersebut.
Berikutnya Cindy kembali memberi pertanyaan kepada Bung Karno mengenai kebebasan pers “Apakah anda akan memberi kebebasan pers?”
Sukarno spontan menjawab “Tidak Akan!” Sukarno melanjutkan alasannya “Karena ini Revolusi! Tidak ada revolusi yang memberikan kebebasan pers.”
Cindy pun menanyakan alasan mengapa revolusi tidak mengizinkan kebebasan pers?
Jawaban Bung Karno sederhana “Karena didalam revolusi selalu saja ada orang-orang yang salah jalan” kata beliau sambil tersenyum. Beliau pun melanjutkan ” karena revolusi adalah perlawanan terhadap penguasa lama, dan berjuang untuk penguasa baru, inilah Revolusi”
Cindy Adams kali ini melontarkan pertanyaan seputar kekuasaan Sukarno “Kini anda menjabat sebagai Presiden sekaligus Perdana menteri apakah anda siap dengan perubahan suatu saat nanti?”
Saya kira pertanyaan itu diajukan Cindy Adams dengan maksud mengenai pencopotan Sukarno dari jabatannya di masa depan nanti yang sangat mungkin terjadi.
Bung Karno menanggapi hal itu sebagai pertanyaan mengenai apa yang akan dialakukan di masa tua nanti setelah tak sanggup memimpin. Beliau sama sekali tidak menyadari mengenai pencopotan kekuasaan yang terjadi.
Jawaban Sukarno adalah “Mereka telah menetapkan saya menjadi Presiden seumur hidup. Akan tetapi tentu saya punya hak untuk mengatakan … suatu hari nanti “rakyatku, aku sudah letih sekarang biarkanlah aku pergi”. Kalian telah melaksanakannya dengan baik dengan menunjukku sebagai Presiden seumur hidup. Tetapi jika keadaan tubuhku mengizinkan, aku tetap ingin menjadi Presiden hingga akhir hayatku”
“Kritik mengenai anda yaitu Anda lebih mementingkan monumen dibandingkan hakrakyat (yang dimaksud adalah kebebasan pers)?” begitulah cindy adams menanyai bung Karno.
Sukarno menjawab dengan bertanya balik “Mengapa Amerika membuatkan monumen Washington untuk rakyatnya?” “Hal ini karena dalam pembangunan mental suatu bangsa dibutuhkan monumen.”
Kali ini Sukarno yang bertanya balik kepada Cindy Adams “Mengapa pers Amerika begitu bodoh dengan mengabarkan saya sakit? Apakah saya terlihat sakit?
Cindy adams kemudian menjawab “Tidak.” “Pernahkah anda memikirkan hal ini akan terjadi?”
Bung Karno pun menjawab “Kamu tahu bahwa saya seorang yang percaya pada Tuhan. Semua hal bergantung pada yang diatas sana. Hidup atau mati semua bergantung pada yang diatas sana, bergantung pada Tuhan. Jatuh atau tidak jatuh juga bergantung pada Tuhan.” “Saya tidak melihat tanda apapun bahwa saya akan jatuh atau akan dijatuhkan.”
Jawaban ini tentu dilontarkan Sukarno dengan tujuan untuk menjaga kewibawaan kekuasaan di Indonesia, padahal beliau sendiri yang paling yakin mengenai kejatuhannya sudah dekat seperti yang sering beliau katakan kepada pengawalnya maupun anak-anaknya bahwa tanda kejatuhannya sudah dekat.
Cindy kemudian menanyakan “Setelah Sukarno tidak lagi menjadi Presiden, anda kira apa yang akan terjadi dengan republik ini?”
Sukarno menjawab “Andai Tuhan memberiku waktu 15 atau 20 tahun lagi maka saya akan pergi dengan hati yang tenang. Karena bangsa ini sudah menjadi bangsa sudah berkembang menjadi bangsa yang kuat.”
Cindy menanyai Sukarno, kali ini soal persatuan “Apakah setelah anda tidak lagi menjadi presiden tetap akan ada persatuan di negeri ini?”
Sukarno menjawab singkat “Saya kira ya.”
Cindy adams kemudian menanyai mengenai suksesor bung Karno “Apakah pernah terlintas di benak anda siapa yang akan menjadi pengganti anda?”
Sukarno menjawab ” Tidak! karena seorang suksesor tidak pernah ditunjuk, tetapi ia tumbuh bersama bangsa itu.”
Kurang puas mengenai jawaban Sukarno “Tapi apakah pernah terlintas di pikiran anda mengenai siapa suksesor anda”
Sukarno menjawab “tentu ada tapi saya kira sampai saat ini belum ada yag cukup dewasa untuk memimpin bangsa ini.”
Kemudian Cindy bertanya “bagaimana anda ingin dikuburkan nanti?”
Sukarno menjawab hal tersebut “Dibawah pohon besar, dibawah batu besar dan batu nisan. Mereka tidak boleh menulis di batu nisan ku Paduka Yang Mulia Presiden Sukarno dsb. , mereka cukup menuliskan disini beristirahat Bung Karno penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Begitulah sekilas wawancara terhadap Sukarno. Seorang Bung yang terlalu besar untuk dikecilkan bahkan lewat doktrin desukarnoisasi ala Orde Baru. 

Misteri Dua Paragraf Setan Otobiografi Bung Karno

Jpeg
(bukubukulawas.com)
Ada yang mengganjal ketika membaca secara runut tiga artikel Tempo itu. Bukan soal tudingan agen CIA, kisah pribadi Cindy Adams, detik-detik akhir kejatuhan Sukarno, atau mengenai kehidupan keluarga besarnya. Melainkan tentang misteri “paragraf setan” dalam otobiografi Sukarno berjudul “Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh -saat itu- Mayor TNI AD Abdul Bar Salim, menjadi “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia“.
Yang menarik ketika Tempo membeberkan adanya ketidak beresan pada otobiografi itu akibat penambahan dua paragraf dibanding versi aslinya dalam bahasa Inggris.
Meski hanya dua paragraf saja yang bisa jadi tidak memengaruhi isi buku atau soal pandangan masyarakat umum terhadap Indonesia. Namun, menurut saya pribadi, memang tambahan tersebut bisa menimbulkan perpecahan. Mengapa? Karena pada halaman 332, Sukarno terkesan meremehkan peran Mohammad Hatta saat proklamasi kemerdekaan. Tentu, saja, dua paragraf itu mengundang polemik dari berbagai kalangan, khususnya sejarawan. Saya sendiri baru merasa aneh ketika sudah tiga kali membaca otobiografi tersebut.
Tempo menuturkan bahwa, pada 2001, sejarawan Syafii Maarif juga penah marah-marah di hadapan keluarga Bung Karno saat acara peringatan 100 tahun Bung Karno. Kata Bung Syafii, Bung Karno mengecilkan peran Bung Hatta. Berikut dua paragraf yang menjadi kontroversi itu yang saya kutip dari otobiografinya:
Tidak ada orang jang berteriak “Kami menghendaki Bung Hatta”. Aku tidak memerlukannja. Sama seperti djuga aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak memperlihatkan diri disaat pembtjaan Proklamasi. Sebenarnja aku dapat melakukannja seorang diri, dan memang aku melakukannja sendirian. Di dalam dua hari jang memetjahkan uratsjaraf itu maka peranan Hatta dalam sedjarah tidak ada.
 
Perananja jang tersendiri selama masa perdjoangan kami tidak ada. Hanja Sukarnolah jang tetap mendorongnnja kedepan. Aku memerlukan orang jang dinamakan “pemimpin” ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannja oleh karena aku orang Djawa dan dia orang Sumatra dan dihari-hari jang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah djalan jang paling baik untuk mendjami sokongan dari rakjat pulang jang nomor dua terbesar di Indonesia.
Pertanyaannya, mengapa ada dua paragraf tambahan tersebut pada versi bahasa Indonesia?

Mohammad Hatta ada saat Cindy Adams meeawancarai Bung Karno

Yang menarik, ketika Cindy Adams mengkonfirmasi dalam wawancaranya kepada Tempo, bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya tambahan kalimat pada dua paragraf tersebut, “Tidak, saya tidak pernah tahu hal itu. Saya tidak mungkin menulis itu. Hatta ada disana ketika saya mewawancarai Bapak (Sukarno).”
Suatu pernyataan yang wajar bagi Cindy Adams mengingat selepas menyelesaikan otobiografi Sukarno, dirinya memang langsung kembali ke AS. Setelah itu, wanita berusia 84 tahun ini baru kembali ke Indonesia hanya dalam tiga kesempatan seusai Sukarno wafat pada 1974, 1983, dan akhir tahun lalu.
Sementara, Erwin Salim yang merupakan putra penerjemah “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia“, Mayor Abdul Bar Salim membantah tudingan tersebut. Menurutnya, tidak mungkin, ayahnya menambahkan dua paragraf itu karena faktor Hatta sebagai sesama orang Minang yang dihormati.
“Bapak saya tentara, tapi orang Minang. Orang Minang itu lebih mengutamakan Mianangnya dari pada tentara. Mana mungkin Bapak berani mendiskreditkan Hatta,” tutur Erwin Salim seperti saya kutip dari Tempo. “Setahu saya, di Gunung Agung (penerbit) banyak orang Minang. Masak, orang Minang mau jelek-jelekin Bung Hatta?”
“Sejarah dibuat oleh pemenang”. Demikianlah pepatah lama mengingatkan kita tentang salah satu hukum alam yang universal. Termasuk juga berlaku di Indonesia menjelang peralihan kepemimpinan pada era 1960-an. Saya sendiri tidak menuding pemerintah Orde Baru terkait dengan penambahan dua paragraf tersebut saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Namun, hipotesis itu menjadi wajar mengingat otobiografi Sukarno diterbitkan di Indonesia pada 1966 saat Soeharto sudah mengambil kendali. Bahkan, dalam otobiografi itu terdapat kata pengantar langsung dari Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat TNI dengan pangkat Letnan Jenderal.
Hanya, bukan tidak mungkin penambahan dua paragraf itu karena suatu kesalahan cetak, kelalaian editorial, hingga salah terjemahan, Toh, otobiografi Sukarno versi bahasa Inggris terbit hanya sebulan setelah meletusnya Gerakan 30 September. Jadi, ada kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau kekeliruan dari pihak yang terlibat.
Yang pasti, biarlah sejarah yang akan membuktikannya pada masa depan. Itu seperti yang diungkapkan Sukarno pada pengujung kekuasaannya.
“Setiap tahun kekuatanku semakin berkurang, sedang tanggung-djawabku makin bertambah. Hingga saat ini aku telah membaktikan hidupku pada bangsa dan tanah airku dan aku ingin agar bisa mempersembahkan seluruh sisa hidupku.” (Sukarno)

Hugo Chaves, Sukarno Dari Venezuela

Presiden Venezuela Hugo Chavez berbicara di tengah guyuran hujan dalam kampanye terakhirnya di Caracas, dalam foto tanggal 4 Oktober 2012 ini. Chavez meninggal pada hari Selasa (5/3), setelah dua tahun mengidap kanker, mengakhiri 14 tahun kepemimpinannya di negara Amerika Selatan ini, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan berita duka ini lewat siaran langsung televisi. REUTERS/Jorge Silva
Presiden Venezuela Hugo Chavez berbicara di tengah guyuran hujan dalam kampanye terakhirnya di Caracas, dalam foto tanggal 4 Oktober 2012 ini. Chavez meninggal pada hari Selasa (5/3), setelah dua tahun mengidap kanker, mengakhiri 14 tahun kepemimpinannya di negara Amerika Selatan ini, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan berita duka ini lewat siaran langsung televisi. REUTERS/Jorge Silva

Pengagum Sukarno

Di dunia internasional, Chavez merupakan salah satu pemimpin paling karismatik sekaligus kontroversial. Pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa September 2006, Hugo Chavez pernah menyebut George W Bush, Presiden Amerika saat itu, sebagai setan.
Hugo Chavez tak hanya membenci Amerika saja. Ia pun berteman akrab dengan musuh Negeri Abang Sam: Fidel Castro dari Kuba atau Muammar Qadhafi dari Libya. Ia juga menjalin aliansi erat dengan Iran dan menawarkan dukungan pada Argentina terkait perselisihan menyangkut Kepulauan Falklands dengan Inggris.
Dari sederet pemimpin Indonesia, Chavez begitu menghormati presiden pertama RI, Soekarno. Bahkan, ia kerap menyebut nama Soekarno dalam pidatonya.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Budiman Sudjatmiko, bercerita pernah bertemu pemimpin sosialis itu pada 2008. Ketika itu, Budiman diundang ke acara pelantikan Presiden Paraguay, Fernando Lugo. Budiman dan Hugo Chavez sempat berbincang sejenak.
“Ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, Chavez langsung menyebut Konferensi Asia Afrika,” kata Budiman. “Rupanya dia terkesan. Bahkan, sempat menyinggung Gerakan Non-Blok.
Dalam perbincangan itu, Chavez tidak secara langsung memuji Soekarno. Namun, beberapa kali Budiman sempat menyimak pidato Chavez, “Dia sering mengutip ucapan Bung Karno kala mengawali pidatonya.”
Kata Budiman, penyebutan nama Soekarno serta kutipan kalimatnya oleh Chavez menjadi suatu kebanggaan. Hal itu menunjukkan bila Soekarno diakui sebagai pemimpin dunia berpengaruh. “SBY sekalipun tidak pernah menyinggung Bung Karno,” ujar Budiman.

Menyebut George W. Bush sebagai Iblis

Hugo Chavez (Tempo.co)
Hugo Chavez (Tempo.co)
Hugo Chavez adalah salah satu pemimpin yang paling karismatik sekaligus kontroversial di dunia. Dia dicintai rakyatnya namun dibenci Amerika Serikat dan sekutunya. Dialah satu-satunya presiden yang berani menyebut George W Bush, presiden Amerika Serikat saat itu, dengan kata-kata kasar dalam forum resmi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa September 2006.
“Iblis datang ke sini kemarin,” kata Chavez, merujuk pada Bush, yang berbicara di mimbar yang sama sehari sebelumnya. “Dan bau belerangnya masih tercium hingga hari ini.”
Chavez menuduh Bush berbicara “seolah-olah ia memiliki dunia” dan mengatakan seorang psikiater bisa dipanggil untuk menganalisis pernyataan-pernyataannya.
Omongan Chavez itu menjadi berita utama hampir di seluruh media terkemuka dunia.
Chavez adalah seorang mantan tentara yang terpilih sebagai presiden pada tahun 1998, setelah dipenjara selama kudeta yang gagal tujuh tahun sebelumnya.
Usai kemenangan revolusi sosialisme, ia naik menjadi presiden tahun 1998. Ia segera merebut hati rakyatnya, yang sebagian mengkultuskan dirinya bak dewa.
Chavez mempunyai program acara di televisi, Alo Presidente. Penonton tetap mengikuti acara yang berisi resital puisinya yang bertele-tele dengan lagu-lagu dan tarian aneh dengan antusias.
Meski ia sukses mengatasi kemuskinan dengan menggelontorkan banyak dana hasil laba minyak untuk pendidikan dan kesehatan warganya, di bawah Chavez Venezuela makin otokratis. Ia mengubah konstitusi untuk memungkinkan kekuasaan presiden tanpa batas. Ia sangat membatasi kebebasan pers dan rajin  menasionalisasi banyak industri negara.
Sikap bermusuhannya dengan Barat ditunjukkan dengan memjalin persahabatan dengan ‘musuh’ AS, Fidel Castro dari dan Muammar Qadhafi dari Libya, serta menjalin aliansi erat dengan Iran dan menawarkan dukungan pada Argentina terkait perselisihan menyangkut kepulauan Falklands dengan Inggris.
Ejekannya pada Bush tak hanya menyebutnya sebagai ‘setan’. Ia juga menjuluki pria yang membuat keputusan menginvasi Afghanistan dan Iran sebagai ‘Tuan Berbahaya’ alias Mr Danger, dan menuduh Washington mengobarkan semangat ‘melawan teror dengan teror’ di Afghanistan.
Setelah empat operasi dan kemoterapi intensif untuk kankernya, Chavez mempertahankan cengkeramannya pada negara, dengan membuat ‘wasiat’ bagi rakyatnya untuk memilih Wakil Presiden Nicholas Maduro sebagai penggantinya. Setelah dirawat di Kuba sejak Januari, secara mengejutkan ia pulang dan fotonya bersama kedua putrinya terpambang di banyak media. Rupanya, ini adalah isyarat kepulangan abadinya: raganya tak mampu menahan gempuran kanker lebih lama lagi dan menyerah pada maut hari Selasa waktu Venezuela.

Meninggal Dunia

Wakil Presiden Nicolas Maduro mengumumkan bahwa Presiden Venezuela Hugo Chavez meninggal pada 6 Maret 2013. Ia dilaporkan menderita infeksi saluran pernapasan akut kala menjalani perawatan kanker.
Sampai kini penyakit lain yang diderita Hugo Chavez tak diungkap ke publik. Menteri Informasi Ernesto Villegas mengatakan, kondisi Chavez terus menurun sebelum akhirnya meninggal. Chavez, 58 tahun, baru saja kembali ke Venezuela pada bulan lalu. Ia semula menjalani perawatan kanker di Kuba, tetapi tak pernah muncul di hadapan publik lagi.
Warga Venezuela mendesak agar kondisi kesehatan Chavez diumumkan secara terperinci ke publik. Berbagai spekulasi mengenai penyakit Chavez sebenarnya sudah beredar. Chavez, Presiden Venezuela selama 14 tahun, menderita kanker di panggulnya.
Chaves membuka kepada publik tentang penyakitnya pada Juni 2011. Chavez sampai harus dioperasi empat kali, termasuk perawatan kemoterapi dan radiasi. Baru pada Mei 2012 Chavez mengatakan telah sembuh dari kanker tersebut setelah menjalani serangkaian penanganan kesehatan itu. Operasi terakhir berlangsung pada Februari tahun lalu.
Tak lama, pada Desember 2012, Chavez mengumumkan perlu menjalani operasi kanker lanjutan di Kuba. Dia juga menyebut Wakil Presiden Nicolas Maduro sebagai penerusnya. Namun berbagai kabar mengungkapkan Chavez memutuskan nasib negaranya, meski terbaring di rumah sakit.
Wakil Presiden Nicolas Maduro mengatakan, Chavez masih menjalani kemoterapi. Padahal, dalam siaran TV sebelumnya, Maduro mengatakan, Chavez tengah bertahan hidup. Chavez merupakan presiden yang kembali terpilih lewat pemilu Oktober 2012.
[source]