Senin, 18 April 2016

Pembajakan Kelompok Abu Sayyaf

Pembajakan Kapal Oleh kelompok Abu Sayyaf, RI Minta Malaysia & Filipina Jaga Keamanan Laut

Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah guna mengatasi sering terjadinya pembajakan di kawasan tersebut. Terakhir, kapal tunda TB Henry dan kapal tongkang Cristi dibajak kelompok bersenjata di perairan perbatasan Malaysia-Filipina, Jumat sore, 15 April 2016. “Indonesia juga akan mengajak negara-negara tetangga untuk meningkatkan keamanan,” kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal, Sabtu, 16 April 2016.
Dua kapal berbendera Indonesia itu dibajak di perairan perbatasan Malaysia-Filipina. Kapal tersebut diketahui tengah dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan, Kalimantan. “Kapal itu membawa sepuluh ABK (anak buah kapal) warga negara Indonesia,” ujar Iqbal.
Menurut Iqbal, seorang ABK tertembak dalam peristiwa itu. ABK yang tertembak itu telah diselamatkan Polisi Maritim Malaysia dan dibawa ke wilayah negara itu guna mendapat perawatan.
rute brahma sebelum disergap Abu Sayyaf (Tempo.Co)
rute brahma sebelum disergap Abu Sayyaf (Tempo.Co)
Sementara itu, lima ABK lain selamat dan empat sisanya diculik. Lima ABK yang selamat telah bersama kedua kapal dan dibawa Polisi Maritim Malaysia ke Pelabuhan Lahat Datu, Malaysia.
Kementerian Luar Negeri sudah berkoordinasi langsung dengan manajemen perusahaan untuk mendapat informasi perihal detail peristiwa tersebut. Kementerian juga tengah berupaya berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pihak di dalam negeri maupun di Malaysia dan Filipina.
“Konsulat RI Tawau juga terus berkoordinasi dengan otoritas di Malaysia yang ada di wilayah tersebut,” tutur Iqbal.
Sebelumnya, sepuluh WNI awak kapal pandu Brahma 12 diculik kelompok Abu Sayyaf sejak 26 Maret lalu. Kelompok itu meminta tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar untuk pembebasan sandera. Hingga kini, usaha pembebasan tersebut masih dilakukan.

Panglima TNI Segera ke Malaysia dan Filipina

Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan segera bertemu dengan panglima angkatan bersenjata Filipina dan Malaysia guna membahas keamanan di perairan perbatasan ketiga negara. Pertemuan ini buntut dari maraknya pembajakan dan penyanderaan kapal beserta awaknya yang melintasi perairan Indonesia-Malaysia-Filipina.
Dalam pertemuan tersebut, Gatot akan menawarkan kerja sama berupa patroli terkoordinasi. “Kami akan saling mengawal sampai perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE),” kata Gatot di Markas Kopassus Cijantung, Jakarta, Sabtu, 16 April 2016.
Kapal perang tiap negara akan berpatroli di wilayahnya masing-masing. Namun, bila ada kejadian kriminal di perairan Malaysia atau Filipina, Gatot menawarkan militer Indonesia diperbolehkan masuk untuk membantu. “Saya akan koordinasikan, siapa yang cepat, dia yang boleh ke sana,” tuturnya.
Gatot yakin, lewat kerja sama tersebut, perairan di sekitar perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina akan lebih aman. Sebab, dalam kurun tiga pekan terakhir, terjadi dua kali pembajakan kapal.
Pembajakan pertama menimpa dua kapal, yaitu Brahma 12 dan Anand 12, serta sepuluh awaknya saat melintasi perairan Filipina pada akhir Maret. Penyandera ialah kelompok Abu Sayyaf. Mereka meminta tebusan 50 juta peso.
Peristiwa kedua terjadi kemarin, Jumat, 15 April 2016. Enam ABK berhasil selamat meski seorang di antaranya terkena tembakan, tapi empat orang disandera. “Kalau sudah ada MOU pasti aman, sekarang kan tidak,” ucap Gatot. Gatot menduga pembajakan yang kedua didalangi aktor yang sama, yaitu kelompok Abu Sayyaf.

Malaysia Tutup Perbatasan dengan Filipina

Sabah, negara bagian Malaysia menutup wilayah perbatasannya dengan Provinsi Tawi-Tawi di selatan Fiipina menyusul insiden penculikan oleh kelompok garis keras Abu Sayyaf terhadap warga Malaysia.
Otoritas Filipina gagal menghentikan penculikan yang dilakukan oleh Abu Sayyaf bersama kelompoknya termasuk terhadap empat warga Malaysia yang belum ketahuan nasibnya.
Selain itu, Abu Sayyaf juga menculik 10 pelaut Indonesia pada 26 Maret 2016 di daerah Tawi-Tawi yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Sabah.
Belum lama ini, dua jenderal Filipina dipecat lantaran dianggap gagal menghentikan penculikan yang dilakukan oleh Abu Sayyaf di Sabah. “Sebelumnya Abu Sayyaf memenggal kepala seorang warga Malaysia di selatan Filipina dan membunuh seorang polisi laut dalam operasi penyerbuan di sebuah resor di Sabah,” tulisMindanao Examiner, Sabtu 16 April 2016.
Mengenai penutupan perbatasan oleh aparat keamanan Malaysia di Sabah belum mendapatkan komentar dari Polisi Nasional Filipina di daerah otonomi Muslim di Mindanao (ARMM). Adapun Kementerian Luar Negeri Filipina juga tidak menyampaikan siaran mengenai penutupan tersebut.
Namun pengacara Laisa Alamia, Sekretaris Eksekutif ARMM, membenarkan bahwa Malaysia telah menutup perbatasannya dengan Tawi-Tawi sebagai bentuk protes atas penculikan yang dilakukan oleh Abu Sayyaf. Dia mengatakan, penutupan perbatasan berdampak pada aktivitas ekonomi di Tawi-Tawi, tempat para pedagang melakukan berniaga barang kebutuhan dari Sabah dan dijual kembali di kampung halamannya.
“Ada kegiatan ekonomi gelap yang kami sebut dengan penyelundupann tetapi bagi masyarakat di sana, mereka melakukannya dengan barter barang tidak ada pajak yang harus dibayar. Mereka juga ke Sandakan di Sabah dengan perahu dan menjual barang-barang mereka di sana, pada saat yang sama mereka membeli produk di bawah harga,” kata Alamia.
Abu Sayyaf posting gambar dari sandera Malaysia di Facebook. thestar.com (Tempo.Co)
Abu Sayyaf posting gambar dari sandera Malaysia di Facebook. thestar.com (Tempo.Co)
Sebuah foto  empat warga Malaysia yang menjadi sandera kelompok bersenjata Filipina, Abu Sayyaf, diunggah ke Facebook, yang diduga milik kelompok militan itu.
Keempat orang yang semuanya pelaut tersebut tampak jongkok dengan memegang secarik kertas bertulisan “Victor Troy” tertanggal 8 April 2016.
“Facebook tersebut diyakini milik kelompok Abu Sayyaf,” tulis Star, Jumat, 15 April 2016.
Keempat pelaut asal Malaysia itu bernama Wong Teck Kang, 31 tahun, Wong Hung Sing (34), Wong Teck Chii (29), dan Johnny Lau Jung Hien (21), semuanya dari Sarawak. Mereka ditangkap kelompok bersenjata ketikatugboat MV Masfive 6 yang mereka nakhodai merapat di Pulau Ligatan pada 1 April 2016 setelah berlayar dari Tawau untuk mengirimkan kayu gelondongan ke Manila.
Selanjutnya para penculik menghubungi keluarga korban pada 12 April untuk pembebasan mereka. Pada 14 April, keluarga korban menemui Kepala Menteri Sarawak Tan Sri Adenan Satem untuk meminta bantuan.
Belum jelas apakah para penculik warga Malaysia itu berasal dari kelompok Abu Sayyaf, tapi aksi ini diyakini dilakukan sub-komando yang dikenal dengan sebutan Sawajan.
Masyarakat sangat paham mengenai sepak terjang kelompok Abu Sayyaf, yakni menculik demi tebusan uang. Mereka sengaja melakukan penculikan di daerah selatan Filipina di Pulau Jolo guna menghindari kejaran militer Filipina.

Abu Sayyaf Rilis Video Ajukan Tuntutan Baru Lepaskan Sandera

Kelompok Abu Sayyaf mengumumkan batas waktu penyerahan tebusan terbaru untuk pembebasan sandera warga Kanada dan Norwegia, termasuk mengubah besaran uang tebusan.
Abu Sayyaf melalui video yang dirilis hari ini, 15 April 2016, mengatakan batas waktu diperpanjang menjadi 25 April 2016.
Untuk uang tebusan, kelompok milisi bersenjata di Filipina itu menurunkan jumlahnya menjadi 300 juta peso dari sebelumnya 1 miliar peso untuk semua sandera.
“Jika Anda tidak memenuhi tuntutan ini, kami pastikan memenggal leher satu dari empat sandera,” ujar beberapa pria bersenjata dari kelompok Abu Sayyaf yang berdiri di belakang para sandera, seperti dilansirInquirer.net.
Para sandera, yakni John Ridsel yang berasal dari Kanada, Robert Hall (Kanada), Kjartan Sekkingstad (Norwegia), dan Marites Flor (Filipina), tampak diapit para pria bersenjata.
Dalam video berdurasi dua menit itu, para penyandera mengaku berada di Pulau Sulu.
“Kami katakan bahwa ini peringatan terakhir. Ini sangat mendesak untuk keluarga dan pemerintah. Jika 300 juta tidak dibayar untuk saya pada 25 April pukul 3 sore, mereka akan memenggal saya,” tutur Ridsel.
Hall mengatakan pernyataan senada. “Saya katakan kepadamu bahwa tebusan saya 300 juta peso. Saya mohon kepada saudara saya, pemerintah Filipina, dan Kanada yang saya tahu memiliki kapasitas untuk mengeluarkan kami dari sini.”
Belum ada tanggapan dari militer Filipina atas video terbaru kelompok yang sudah menyatakan diri beraliansi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) itu. Keempat sandera diculik Abu Sayyaf di Pulau Samal pada September 2015.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan upaya penyelamatan atas 10 Warga Negara Indonesia yang menjadi sandera kelompok militan Abu Sayyaf akan diarahkan pada negosiasi. Dengan demikian, operasi militer tidak akan menjadi opsi pilihan penyelamatan.
“Kami sedang berada di ranah negosiasi. Mudah-mudahan ini yang terbaik karena dengan kegiatan yang kita lakukan itu ada dampaknya,” kata Ryamizard ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (7/4).
Ryamizard mengatakan saat ini pemerintah Indonesia bersama-sama dengan pemerintah Filipina masih mempersiapkan proses negosiasi tersebut. Rencananya, negosiasi akan dilakukan secepatnya pada Jumat malam besok.
“Ini masih tahap negosiasi bisa mundur-mundur,” katanya.
Ryamizard mengatakan dirinya berharap upaya negosiasi menjadi pilihan terbaik dibandingkan melakukan operasi militer terhadap aksi penyanderaan tersebut. Sebabnya, bagaimanapun aksi militer akan berpotensi untuk jatuhnya korban jiwa.
“Kalau yang mati itu terorisnya, enggak masalah. Kalau yang mati rakyat, disayangkan,” ujarnya.
Dia kemudian mengatakan negosiasi tersebut akan dilakukan pemerintah Filipina langsung kepada kelompok Abu Sayyaf. Indonesia tidak akan berpartisipasi ke dalam aksi tersebut, karena tidak memiliki izin untuk masuk ke perairan Filipina. “Kami tidak boleh masuk.”
Ryamizard mengatakan dalam negosiasi tersebut akan diajukan opsi tebusan. Meski demikian, dia menegaskan dana tersebut tidak akan dibiayai oleh negara. Ryamizard mengatakan kelompok tersebut meminta uang tebusan karena adanya persoalan ekonomi.
“Kemudian yang di sana, ada kelompok yang kering dan kurang makan. Itu masalah perut,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Inspektur Jenderal Ketut Untung Yoga secara terpisah mengatakan Polri terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait meski tidak bisa turun langsung pada operasi penyelamatan.
Kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara bertolak dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina pada 15 Maret. Kedua kapal kemudian dibajak Abu Sayyaf di perairan Sulu pada 27 Maret lalu.
Kapal Brahma 12 sudah lebih dahulu dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina. Sementara 10 WNI ABK Anand 12 hingga saat ini masih disandera militan Abu Sayyaf, yang meminta uang tebusan sekitar Rp15 miliar.
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengatakan pemerintah tak perlu membayar tebusan Rp15 miliar yang diminta perompak untuk membebaskan awak kapal Indonesia yang mereka sandera.
Seperti diketahui, para pembajak dan penyandera awak kapal ini berasal dari kelompok militan Abu Sayyaf yang kerap beroperasi di wilayah selatan Filipina.
Wakil Komisi I DPR Mutya Hafiz menyesalkan peryataan Menhan tersebut. Pasalnya, ia menilai peryatan Menhan ini dapat memancing emosi kelompok Abu Sayyaf.
“Dalam menangani sandera, pernyataan Menhan ini; Satu, tidak perlu; Dua, tidak solutif; Tiga, dapat memancing emosi penyandera,” kata Mutya saat dihubungi, Jumat (8/4/2016).
Politisi Golkar ini meminta semua pihak harus menahan ucapan-ucapan yang kontraproduktif, terutama mejelang batas waktu yang diberikan oleh para penyandera.
“Menhan harus faham ini. Jika perlu memberi informasi kepada wartawan, berikan jika memang ada perkembangan terbaru. Jika belum ada, ya tidak perlu buat pernyataan, khawatir kontraproduktif,” tandasya.

Militer Filipina Kurang Pengalaman, 18 Tentara Gugur

Tewasnya 18 tentara Filipina dalam perang sengit melawan kelompok Abu Sayyaf selama sekitar 10 jam pada Sabtu pekan lalu tercatat sebagai salah satu kerugian terbesar bagi militer Filipina dalam beberapa tahun terakhir.
Suara kritis dan pesimistis terhadap kemampuan pemerintah dan militer Filipina pun mulai muncul.
“Begitu banyak tentara tewas dalam pertempuran setiap tahun. Apakah ini bagian dari sebuah kegagalan pemerintah atau tidak terhadap para pemberontak, dan teroris takut pada pemerintah lagi?,” kata Anne Turla, pemimpin dan pendiri Soldiers’ Wives and Girlfriends (SWAG) Filipina.
Dalam perang sengit itu, puluhan tentara Filipina juga terluka. Sedangkan dari kubu Abu Sayyaf hanya lima militan yang tewas.
Operasi militer Filipina diluncurkan setelah maraknya penculikan warga asing, termasuk 10 warga negara Indonesia (WNI) sejak Maret 2016 lalu. Sampai hari ini, 10 WNI itu belum dibebaskan. Pemerintah Filipina juga belum memberikan laporan perkembangan upaya pembebasan 10 WNI.
Militer Indonesia sejatinya sudah siap untuk membebaskan 10 WNI. Namun, tentara Indonesia dilarang masuk wilayah Filipina berdasarkan konstitusi di negara itu yang memang melarang tentara asing masuk.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Hernando Iriberri, memerintahkan perang melawan kelompok Abu Sayyaf nonstop. Meski 18 tentara Filipina tewas, Jenderal Iriberi tetap memuji keberanian tentaranya.
”Kami berduka. Seluruh angkatan bersenjata berduka,” kata Iriberri mengacu pada kematian 18 tentara dalam perang dengan Abu Sayyaf fi di desa Baguindan, Kota Tipo-Tipo, Basilan.
Senator yang juga calon presiden Filipina, Grace Poe, minta operasi militer terhadap Abu Sayyaf memperhatikan nasib warga sipil yang tidak bersalah.”Teroris ini harus segera dikejar dan dihancurkan oleh kekuatan penuh pasukan militer kami, dengan memperhatikan keselamatan warga sipil tak berdosa,” katanya, seperti dikutip Inquirer, Senin (11/4/2016).
Sementara itu, Wakil Presiden sekaligus calon presiden Filipina, Jejomar Binay, menyoroti masalah kekerasan oleh kelompok Abu Sayyaf terkait dengan persoalan kemiskinan. ” Tragedi ini adalah pengingat bagi kita untuk mengatasi masalah kemiskinan, yang merupakan penyebab masalah perdamaian dan ketertiban di Mindanao,” ujarnya.
Filipina Kerahkan Pasukan Elite Tambahan
Kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Hernando Iriberri. (Intelijen)
Kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Hernando Iriberri. (Intelijen)
Militer Filipina telah mengerahkan pasukan anti-teror elite tambahan untuk memburu bandit-bandit Abu Sayyaf siang hingga malam. Operasi militer Filipina terus berlanjut dan hingga Senin kemarin, total 13 militan Abu Sayyaf dibunuh.
Operasi militer digencarkan setelah 18 tentara Filipina tewas dalam perang selama 10 jam di Desa Baguindan, Kota Tipo-Tipo, Basilan, hari Sabtu pekan lalu. Jumlah korban tewas itu merupakan kerugian terbesar yang dialami militer Filipina sepanjang tahun ini.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), Brigadir Jenderal Restituto Padilla, mengatakan, 13 militan Abu Sayyaf merupakan akumulasi dari operasi sejak Sabtu hingga Senin.
Pasukan tambahan yang dikerahkan berasal dari pasukann anti-teror elite AFP, pasukan Light Reaction Company (LRC), dan Tentara Scout Rangers. Para pasukan tambahan itu dikirim ke Basilan untuk membantu melacak bandit-bandit Abu Sayyaf yang dipimpin oleh Isnilon Hapilon dan Furuji Indama.
Kepala AFP, Jenderal Hernando Iriberri, telah memerintahkan pasukan Filipina untuk melakukan operasi berkelanjutan melawan musuh.
”Kami telah mengerahkan pasukan tambahan ke pulau. Siang dan malam kita akan bergerak setelah bandit ini (beraksi),” kata seorang sumber militer Filipina, seperti dikutip Philstar, Selasa (12/4/2016).
Selain dari unit berbasis Basilan, pasukan dari Sulu juga dikerahkan untuk memburu kelompok Abu Sayyaf yang terlibat dalam penculikan untuk minta tebusan di kawasan Sabah.

Siapa Abu Sayyaf?

Basilan province is bastion of power of Abu Sayyaf rebels ... (mindanaoexaminer.com)
Basilan province is bastion of power of Abu Sayyaf rebels … (mindanaoexaminer.com)
Beberapa waktu belakangan, nama Abu Sayyaf semakin sering terdengar di media nasional terkait penculikan dan penyanderaan terhadap 10 orang anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di wilayah selatan Filipina.
Khadafi_Abubakar_Janjalani
Kelompok Abu Sayyaf, juga dikenal sebagaiAl Harakat Al Islamiyya, adalah sebuah kelompok separatis yang terdiri dari milisi yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.
Khadaffi Janjalani dinamakan sebagai pemimpin kelompok ini oleh Angkatan Bersenjata Filipina.
Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Kelompok ini bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pengeboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu serta menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar yang Pan-Islami di Semenanjung Melayu (Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara. Nama kelompok ini adalah bahasa Arab untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf).
Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya[masih membutuh rujukan] di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.
Meski termasuk kecil dari segi jumlah, kelompok yang didirikan oleh Abdurajak Abubakar Janjalani ini dikenal kejam dalam menjalankan aksi-aksinya. Kelompok Abu Sayyaf adalah pihak yang bertanggung jawab atas pengeboman Superferry 14 yang menewaskan 116 orang pada 2004.
Selain pengeboman, kelompok Abu Sayyaf juga melakukan berbagai tindak kriminal dan aksi teror lain seperti pembajakan, penculikan, bahkan pemenggalan. Sepak terjang mereka membuat kelompok ini dimasukkan dalam daftar teroris internasional oleh PBB, Amerika Serikat (AS), Australia, Kanada, Malaysia, Indonesia, dan beberapa negara lainnya.
Abu Sayyaf yang berarti “pemegang pedang” dalam bahasa Arab didirikan pada 1991 oleh Abdurajak Abubakar Janjalani, seorang militan Islam Filipina yang ikut bertempur melawan pasukan Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an, merupakan pecahan dari kelompok separatis yang lebih dahulu ada di Filipina yaitu Moro National Liberation Front (MNLF).
Janjalani mendapatkan bantuan dana dari pengusaha Arab Saudi sekaligus ipar dari pendiri Al Qaedah, Osama bin Laden yaitu Mohammed Jamal Khalifa untuk membentuk Abu Sayyaf pada awal 1990-an.
Kelompok ISIS di Timur Tengah tiba-tiba mengklaim penyergapan yang menewaskan 18 tentara Filipina yang sejatinya dilakukan faksi kelompok Abu Sayyaf pimpinan Isnilon Hapilon, di Basilan Sabtu lalu.
Salah satu faksi Abu Sayyaf juga disebut-sebut sebagai penyandera 10 warga negara Indonesia (WNI), namun faksi pimpinan siapa masih misterius. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi telah memastikan 10 WNI tidak berada di medan tempur Abu Sayyaf dan militer Filipina di Basilan. Dengan demikian, ada dugaan bukan faksi Abu Sayyaf pimpinan Hapilon yang menyandera 10 WNI.
Klaim kelompok Islamic State (ISIS) telah mengusik Pemerintah Filipina. Menteri Pertahanan Filipina, Voltaire Gazmin, mengatakan bahwa tidak ada organisasi ISIS di Filipina.
”Kelompok di Basilan sedang mencoba untuk mengatur dan berafiliasi dengan ISIS. Namun sejauh ini informasi kami mengatakan bahwa tidak ada organisasi ISIS formal di sini, di Filipina,” kata Gazmin dalam konferensi pers dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Ashton Carter, seperti dikutip Philstar, Jumat (15/4/2016).
Carter mendukung pernyataan rekannya itu dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi di Filipina mungkin sejalan dengan “fenomena di seluruh dunia”, di mana ada kelompok teror berafiliasi diri dengan ISIS.
”Itu salah satu alasan mengapa begitu penting bahwa ISIS dihancurkan di Suriah dan Irak, yang saya yakin kita akan lakukan dengan mitra koalisi kami,” katanya.
Klaim ISIS sendiri kemarin telah melebih-melebihkan jumlah korban tewas dari kubu tentara Filipina, yang disebut oleh kelompok itu mencapai 100 orang.
“ISIS selalu melebih-lebihkan klaim mereka karena ISIS ingin menggembleng potensi perekrutan untuk menunjukkan bahwa kelompok itu menang,” kata Dr. Rohan Gunaratna, Kepala Pusat Internasional untuk Kekerasan Politik dan Penelitian Terorisme.
Gunaratna lantas mengurai keterkaitan salah satu faksi Abu Sayyaf dengan ISIS. Menurutnya, faksi Abu Sayyaf di Basilan yang dipimpin oleh Isnilon Hapilon tidak lagi di bawah Radullan Sahiron, pemimpin paling senior kelompok Abu Sayyaf.
“Ia (Hapilon) telah bersumpah setia kepada (pemimpin ISIS) Abu Bakr Al-Baghdadi. Jadi faksi di Basilan dari Abu Sayyaf langsung melaporkan ke Suriah dan itulah sebabnya ISIS mengklaim serangan ini,” katanya.
“Jadi, sejauh ISIS berkaitan dengan para militan yang menyerang militer Filipina di Basilan, mereka tentara kekhalifahan,” lanjut Gunaratna.
Menurutnya, pemerintah Filipina harus prihatin dengan hal ini, terutama dengan penciptaan inti ISIS di Basilan.
”ISIS telah membentuk kehadiran di Filipina selatan oleh mengkooptasi kelompok Abu Sayyaf. Untuk mengatakan bahwa ISIS tidak di Filipina adalah salah. Namun yang pasti ISIS sekarang akan memperluas kegiatannya,” ujarnya.
Pakar terorisme ini tidak yakin apakah faksi Abu Sayyaf pimpinan Hapilon yang menyandera 10 WNI dn beberapa warga asing lainnya atau bukan. Meski demikian, dia memperingatkan bahwa kemungkinan adanya serangan teror di kawasan semakin dekat, terlebih ISIS juga pernah mengklaim serangan di Indonesia.

Aksi-Aksi Abu Sayyaf Sebelumnya

Juni 2014: Penculikan & Pengeboman Mindanau

Khair Mundos. (Intelijen)
Khair Mundos. (Intelijen)
Khair Mundos adalah komandan pengganas miliatan Islam yang paling dicari pemerintah AS karena berkali-kali mendapat kiriman dana dari al-Qaeda untuk membiaya sejumlah pengeboman di Filipina.
Pasukan kemanan Filipina, Rabu kemarin (11/6/2014) menangkap komandan kelompok penggaanas Abu Sayyaf itu di daerah kumuh dekat Bandara Internasional Manila.
AS pada 2009 menawarkan ganjaran sebesar US$ 500 .000 bagi siapa saja yang bisa membunuh atau menangkap Khair Mundos. Menurut AS, Mundos bekerja sebagai bos keuangan Abu Sayyaf, tulis Philippine Daily Inquirer, Kamis (12/6/2014). Ia termasuk teroris yang paling dicari oleh Filipina maupun AS.
Senior Superintendent Roberto Fajardo, kepala Grup Deteksi dan Penyelidikan Kriminal Kepolisian Nasional Filipina mengatakan, Mundos ditangkap oleh angkatan darat dan kepolisian di sebuah rumah milik kerabatnya di Paranaque City, dekat bandara Manila, pada 09:30. Namun Fajardo menampik spekulasi keberadaan Mundos di Manila dalam rangka melakukan aksi pengeboman dan mengacaukan perayaan hari kemerdekaan Filipina pada Kami ini.
Fajardo mengatakan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Lokal pernah menawarkan ganjaran sebesar US$ 27.000 (1,2 juta peso Filipina) untuk penangkapan Mundos. Kemudian ganjaran itu naik menjadi 5 juta peso setelah Mundos kabur dilarikan kawanan Abu Sayyaf dari penjara pada 2007.
“Mundos kabur ke Metro Manila karena pihak berwenang di Mindanao keras dan sedang mengejarnya,” ujar Fajardo.
“Kami baru selesai menyiapkan surat perintah penangkapannya. Kita menangkapnya sehari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan Filipina,” tambah Fajardo.
Penangkapan Khair Mundos, yang nama pengganasnya Abu Ayman, adalah hasil pengamatan Intelijen Pasukann Keamanan di Angkatan Darat dan CIDG selama dua bulan. Mundos dikejar karena keterlibatannya dalam pengeboman dan penculikan di Mindanao.

Oktober 2014: Penyanderaan Warga Jerman

Kelompok militan Islam Abu Sayyaf di Filipina Selatan memperpanjang tenggang waktu eksekusi sandera warga negara Jerman, selama dua jam agar uang tebusan yang mereka minta dibayar.
Kelompok Abu Sayyaf yang juga mendukung perjuangan ISIS mengumumkan melalui radio lokal bahwa Stefan Okonek (71 Tahun) warga negara Jerman akan dibunuh pada Jumat (17/10/2014) Pukul 17.00 waktu setempat (Pukul 16.00 WIB). Seperti yang dilansir oleh Aljazeera, Jumat (17/10/2014).
Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan USD5,6 Juta untuk membebaskan Stefan Okonek. Stefan Okonek bersama temannya Henrite Dielen disandera oleh Kelompok Abu Sayyaf setelah kapal yang mereke tumpangi rusak di dekat Pulau Palawan pada April kemarin. Rencananya mereka akan menuju Sabah, Malaysia.
Sebuah video dirilis oleh Kelompok Abu Sayyaf yang memperlihatkan gambar Stefan Okonek di sebuah tempat di Filipina Selatan. Selain meminta uang tebusan mereka juga meminta Pemerintah Jerman mendesak AS tidak melakukan serangan udara terhadap ISIS di Irak dan Suriah.
Sementara itu Pemerintah Filipina berusaha keras untuk melakukan negosiasi dengan penyandera agar para sandera dapat dibebaskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar