Senin, 18 April 2016

Konferensi Asia Afrika, Bukti Indonesia Pimpin Dunia Lewat Asia & Afrika

Konferensi Asia Afrika

Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika(disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asiadan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon),India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung,Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atauneokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belandamengenai Irian Barat.
Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kerukunan dan kerjasama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknyaGerakan Non-Blok pada 1961.

Sejarah

  • 23 Agustus 1953 – Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (Indonesia) di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara mengusulkan perlunya kerjasama antara negara-negara di Asia dan Afrika dalam perdamaian dunia.
  • 25 April–2 Mei 1954 – BerlangsungPersidangan Kolombo di Sri Lanka. Hadir dalam pertemuan tersebut para pemimpin dari India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar), dan Indonesia. Dalam konferensi ini Indonesia memberikan usulan perlunya adanya Konferensi Asia–Afrika.
  • 28–29 Desember 1954 – Untuk mematangkan gagasan masalah Persidangan Asia-Afrika, diadakanPersidangan Bogor. Dalam persidangan ini dirumuskan lebih rinci tentang tujuan persidangan, serta siapa saja yang akan diundang.
  • 18–24 April 1955 – Konferensi Asia–Afrika berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Persidangan ini diresmikan oleh PresidenSoekarno dan diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal denganDasasila Bandung.

Pelopor

  • Bendera Indonesia Ali Sastroamidjojo
  • Bendera Pakistan Mohammad Ali Bogra
  • Bendera India Jawaharlal Nehru
  • Bendera Sri Lanka Sir John Kotelawala
  • Bendera Myanmar U Nu

Pertemuan kedua (2005)

Prangko peringatan 50 tahun Konferensi Asia–Afrika (wikipedia commons)
Prangko peringatan 50 tahun Konferensi Asia–Afrika (reprografi via wikipedia commons)
800px-Stamps_of_Indonesia,_021-05
Prangko peringatan 50 tahun Konferensi Asia–Afrika (reprografi via wikipedia commons)
100px-LogoKTTAA2005
Untuk memperingati lima puluh tahun sejak pertemuan bersejarah tersebut, para Kepala Negara negara-negara Asia dan Afrika telah diundang untuk mengikuti sebuah pertemuan baru di Bandung dan Jakarta antara 19-24 April2005. Sebagian dari pertemuan itu dilaksanakan di Gedung Merdeka, lokasi pertemuan lama pada 50 tahun lalu. Sekjen PBB, Kofi Annan juga ikut hadir dalam pertemuan ini. KTT Asia–Afrika 2005 menghasilkan NAASP (New Asian-African Strategic Partnership, Kerjasama Strategis Asia-Afrika yang Baru), yang diharapkan akan membawa Asia dan Afrika menuju masa depan yang lebih baik berdasarkan ketergantungan-sendiri yang kolektif dan untuk memastikan adanya lingkungan internasional untuk kepentingan para rakyat Asia dan Afrika.
Pertemuan ini dilaksanakan saat adanya ketegangan antara Jepang dan Republik Rakyat Tiongkok mengenai dihapuskannya sejarah Jepang yang kelam pada masa Perang Dunia II dari buku-buku teks Jepang. Kepala negara dari kedua negara tersebut kemudian bertemu di sela-sela pertemuan itu untuk saling membicarakan hal tersebut.
Hasil dari KAA 2005 adalah apa yang dikenal dengan nama Nawa Sila.

Lokasi KAA 2005

Ada dua tempat yang digunakan untuk penyelenggaraan KTT tahun 2005:
  • Jakarta Convention Center, Jakarta
  • Gedung Merdeka, Bandung – lokasi asli pertemuan 1955

Pertemuan ketiga (2015)

Konferensi-Asia-Afrika-2015
Logo KTTAA 2015 (reprografi via wikipedia commons)
Tepat pada 23 April 2015, Presiden Joko Widodo resmi menutup perhelatan Konferensi Asia Afria (KAA) 2015 yang berlangsung di Jakarta dan Bandung. Pertemuan penting tersebut berhasil memberikan ruang bagi para Kepala Negara/Pemerintahan di kawasan Asia dan Afrika. untuk membangun sense of ownership. Sehingga dapat merumuskan konsep pembangunan bersama melalui peluang kerjasama di bidang perdagangan dan investasi. Perumusan tersebut bersifat terbuka dan inklusif guna mencerminkan rasa kebersamaan semua pihak yang terlibat dalam perumusannya.
Peringatan 60th KAA (bin.go.id)
Peringatan 60th KAA (reprografi via bin.go.id)
Terdapat tiga dokumen penting yang dihasilkan dalam pertemuan tingkat tinggi KAA 2015.
  • Pertama, Pesan Bandung (Bandung Message) yang bersifat visionary kedepan, apa yang kita capai, dan bagaimana mencapainya.
  • Kedua adalah dokumen menghidupkan kembali Kemitraan Strategis Asia Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP) merupakan dokumenyang lebih teknis berisi program dan proyek untuk memperkuat kerjasama Asia Afrika di segala bidang, danjuga ada mekanisme untuk memastikan apa yang disepakati akan di tindak lanjuti.
  • Ketiga adalah dokumen deklarasi dukungan kemerdekaan Palestina. Berisi pernyataan kembali dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
Negara-negara Asia Afrika pun telah sepakat akan tetap menggelorakan Kerjasama Selatan-Selatan, solidaritas dan stabilitas bangsa-bangsa Asia Afrika. Muncul rumusan bahwa dalam mewujudkan tatanan global yang lebih adil perlu adanya reformasi PBB sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi semua, terutama dalam menangani aksi-aksi kekerasan tanpamandat PBB. Tidak hanya itu, guna memperkuat sektor perekonomian diperlukan lembaga keuangan dunia yang baru. KAA juga menyoroti pentingnya sentralitas sektor maritim serta kepentingan strategis Samudera Hindia sebagai jembatan pembangunan ekonomi di Asia dan Afrika.
Selain itu, telah disepakati bersama untuk membentuk jejaring pusat di perbatasan guna mengecam aksi ekstremis dan terorisme atas nama agama. Kelompok-kelompok radikal tersebut sudah menjadi ancaman kedaulatan negara.
Terkait perkembangan kelompok radikal Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa keamanan masing-masing negara menjadi satu hal yang harus diuta‎makan, terutama dalam meningkatkan kerjasama antarnegara baik dalam bidang bilateral maupun perdagangan.
Indonesia kali ini menjadi pemrakarsa dalam pertemuan negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk membahas penyelesaian konflik negara Islam yang saat ini masih terus berlangsung.

Co-Chairmanship

Terdapat hal baru dalam penyelenggaraan KAA 2015 yakni pengaturan kepemimpinan sidang dengan formula Ketua Bersama (Co-Chairmanship), hal ini di latarbelakangi oleh beberapa pertimbangan. Presiden Joko Widodo memimpin sidang pleno pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika bersama-sama dengan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe dan diikuti oleh seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan. Kemudian pada penutupan sidang, Presiden Robert Mugabe dari Zimbabwe bertindak sebagai co-chair.

Peserta KAA I

  •  Afganistan
  •  Arab Saudi
  •  Burma/ Myanmar (sekarangMyanmar)
  •  Ceylon (sekarang Sri Lanka)
  •  Republik Rakyat Tiongkok
  •  Ethiopia
  •  India
  •  Indonesia
  •  Irak
  •  Iran
  •  Jepang
  •  Kamboja
  •  Laos
  •  Lebanon
  •  Liberia
  •  Libya
  •  Mesir
  •  Nepal
  •  Pakistan
  •  Filipina
  •  *Siprus
  •  Sudan
  •  Suriah
  •  Thailand
  •  Turki
  •  Republik Demokratik Vietnam
  •  Negara Vietnam (Republik Vietnam)
  •  Kerajaan Mutawakkilīyah Yaman
  •  Yordania
Keterangan:
  • Bercetak tebal : Negara pelopor
  • *Siprus : belum merdeka dan masih berada dalam kolonialisme diwakili oleh tokoh yang di kemudian hari menjadi presiden pertamanya, Makarios III

Peserta KAA II

KTT Asia-Afrika 2005 diikuti sebanyak 89 kepala negara/pemerintahan dan utusan khusus dari Asia dan Afrika, 10 perwakilan organisasi regional/sub-regional, 20 negara lain dan 11 organisasi internasional, 1.978 delegasi dan 1.426 perwakilan media domestik dan asing.

Para peserta di antaranya adalah:

  • Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi,
  • Presiden Tiongkok, Hu Jintao,
  • Sekjen PBB, Kofi Annan,
  • Presiden Pakistan, Pervez Musharraf,
  • Presiden Afganistan, Hamid Karzai,
  • Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi,
  • Sultan Brunei, Hassanal Bolkiah
  • Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki.

Asia Pasifik

  • Afganistan
  • Arab Saudi
  • Azerbaijan
  • Bahrain
  • Bangladesh
  • Bhutan
  • Brunei Darussalam
  • Filipina
  • Fiji
  • India
  • Indonesia
  • Iran
  • Irak
  • Jepang
  • Kamboja
  • Kazakstan
  • Korea Utara
  • Korea Selatan
  • Kuwait
  • Kirgizia
  • Laos
  • Lebanon
  • Malaysia
  • Maladewa
  • Kepulauan Marshall
  • Mikronesia
  • Mongolia
  • Myanmar
  • Nauru
  • Nepal
  • Oman
  • Pakistan
  • Palestina
  • Papua Nugini
  • Republik Rakyat Tiongkok
  • Qatar
  • Samoa
  • Singapura
  • Kepulauan Solomon
  • Sri Lanka
  • Suriah
  • Tajikistan
  • Thailand
  • Timor Leste
  • Tonga
  • Turki
  • Turkmenistan
  • Tuvalu
  • Uni Emirat Arab
  • Uzbekistan
  • Vanuatu
  • Vietnam
  • Yaman
  • Yordania

Afrika

  • Republik Afrika Tengah
  • Afrika Selatan
  • Aljazair
  • Angola
  • Benin
  • Botswana
  • Burkina Faso
  • Burundi
  • Chad
  • Djibouti
  • Eritrea
  • Ethiopia
  • Gabon
  • Gambia
  • Ghana
  • Guinea
  • Guinea Bissau
  • Guinea Ekuatorial
  • Kamerun
  • Kenya
  • Komoro
  • Republik Demokratik Kongo
  • Kongo
  • Lesotho
  • Liberia
  • Libya
  • Madagaskar
  • Malawi
  • Mali
  • Maroko
  • Mauritania
  • Mauritius
  • Mesir
  • Mozambik
  • Namibia
  • Niger
  • Nigeria
  • Pantai Gading
  • Rwanda
  • Sao Tome dan Principe
  • Senegal
  • Seychelles
  • Sierra Leone
  • Somalia
  • Sudan
  • Swaziland
  • Tanjung Verde
  • Tanzania
  • Tunisia
  • Uganda
  • Zambia
  • Zimbabwe

Peserta KAA III

Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika ke-60 dihadiri oleh 106 delegasi, termasuk 29 sejumlah kepala negara atau pemerintah, antara lain:
  • Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe,
  • Presiden Cina Xi Jinping,
  • Presiden Iran Hassan Rouhani,
  • PM Singapura Lee Hsien Liong,
  • Raja Abdullah dari Yordania,
  • Presiden Robert Mugabe dari Zimbabwe.
Sejumlah pemimpin pemerintahan dan kepala negara lainnya antara lain
  • PM Jepang Shinzo Abe,
  • Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah,
  • PM Kamboja Hun Sen,
  • Raja Jordania Abdullah II,
  • PM Bangladesh Sheikh Hasina,
  • Presiden Timor Leste Taur Matan Ruak
  • PM Singapura Lee Hsien Loong.
Berikut ini daftar negara yang diwakili kepala negara/pemerintahan, wakil kepala negara/pemerintahan, dan menteri:
1. Diwakili kepala negara atau kepala pemerintahan:
  • Brunei Darussalam,
  • Yordania,
  • Swaziland,
  • Cina,
  • Korea Utara,
  • Iran,
  • Madagaskar,
  • Malawi,
  • Myanmar,
  • Namibia,
  • Sierra Leone,
  • Afrika Selatan,
  • Sudan,
  • Timor Leste,
  • Vietnam,
  • Zimbabwe,
  • Bangladesh,
  • Kamboja,
  • Mesir,
  • Gabon,
  • Malaysia,
  • Nepal,
  • Pakistan,
  • Palestina,
  • Rwanda,
  • Singapura,
  • Thailand.
2. Diwakili wakil presiden:
  • Aljazair,
  • Angola,
  • Liberia,
  • Filipina,
  • Seychelles-Victoria,
  • Zambia.
3. Diwakili deputi perdana menteri:
  • Azerbaijan,
  • Korea Selatan,
  • Laos.
4. Diwakili menteri:
  • Afrika Tengah,
  • Chad,
  • Kongo,
  • Ethiopia,
  • Fiji,
  • Gambia,
  • Guinea Bissau,
  • Irak,
  • India,
  • Malaysia,
  • Mauritania,
  • Mongolia,
  • Maroko,
  • Mozambik,
  • Nigeria,
  • Oman,
  • Papua Nugini,
  • Kepulauan Solomon,
  • Somalia,
  • Srilanka,
  • Tanzania,
  • Tunisia,
  • Uni Emirat Arab,
  • Vanuatu.
Selain itu, ada beberapa negara pengamat yang memastikan hadir, yakni:
  • Australia,
  • Belgia,
  • Kuba,
  • Selandia Baru,
  • Meksiko,
  • Norwegia,
  • Swedia,
  • Swiss,
  • Amerika Serikat,
  • Venezuela.
Source: reprografi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar