Senin, 18 April 2016

“Jas Merah”, “Orla” dan “Sukarno-Hatta”

Apakah akronim “Jas Merah” adalah singkatan dari Jangan sekali-kali melupakan sejarah?
Soekarno-Hatta? Kenapa dua nama itu selalu dibuat bersanding?
Orde Lama? Kenapa tidak disebut Era Demokrasi Terpimpin?
Guruh Soekarnoputra (viva.co.id)
Pada peringatan 112 tahun kelahiran Sukarno di Jakarta, Kamis 6 Juni 2013, Guruh mengungkapkan “Jas Merah” selama ini diartikan sebagai, “jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Padahal, imbuhnya, kepanjangan itu kurang tepat.

Jas Merah

Jas Merah (reprografi)
Jas Merah (reprografi)
“Istilah ‘Jas Merah’ diambil dari judul pidato terakhir Bung Karno pada 1966. Kepanjangannya [yang benar] adalah “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” tegas Guruh.

Orba dan Orla

Selanjutnya, dia mengkritik istilah orde baru (orba) dan orde lama (orla). Guruh melanjutkan istilah orla merupakan kata-kata penghinaan terhadap Bapak Bangsa RI.
“Jadi kalau anda mendongeng kepada anak cucu, sampaikan saja pada 1967 berdiri pemerintahan Orba. Ceritakan itu adalah pemerintahan hasil kudeta yang merata,” ujar Guruh.
Penyebutan orba dan orla, menurutnya, adalah bukti keberhasilan pemerintahan Soeharto. “Orde itu adalah yang menggulingan pemerintahan Soekarno. Dan pemerintahan Orba adalah kudeta yang merata,” tegasnya.

Soekarno-Hatta

Hal ketiga yang menjadi sorotannya adalah soal penyebutan Sukarno bersanding dengan M Hatta. Upaya penyandingan kedua nama itu, menurut Guntur, bentuk keberhasilan politik pemerintahan Soeharto. “Jadi seakan-akan Sukarno tidak ada kekuatan bila tidak ada Hatta dan sebaliknya,” katanya.
Ironisnya, saat ia mendengar jawaban anak SD bahwa Presiden RI pertama adalah Sukarno-Hatta. “Jadi ini dibuat agar seperti Sukarno bin Hatta,” katanya.
Peringatan hari lahir Bung Karno itu dihadiri Guruh Soekarnoputra, Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, ajudan Soekarno serta mantan Menteri Koperasi dan Transmigrasi era Soekarno.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar