Selasa, 19 April 2016

Hugo Chaves, Sukarno Dari Venezuela

Presiden Venezuela Hugo Chavez berbicara di tengah guyuran hujan dalam kampanye terakhirnya di Caracas, dalam foto tanggal 4 Oktober 2012 ini. Chavez meninggal pada hari Selasa (5/3), setelah dua tahun mengidap kanker, mengakhiri 14 tahun kepemimpinannya di negara Amerika Selatan ini, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan berita duka ini lewat siaran langsung televisi. REUTERS/Jorge Silva
Presiden Venezuela Hugo Chavez berbicara di tengah guyuran hujan dalam kampanye terakhirnya di Caracas, dalam foto tanggal 4 Oktober 2012 ini. Chavez meninggal pada hari Selasa (5/3), setelah dua tahun mengidap kanker, mengakhiri 14 tahun kepemimpinannya di negara Amerika Selatan ini, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan berita duka ini lewat siaran langsung televisi. REUTERS/Jorge Silva

Pengagum Sukarno

Di dunia internasional, Chavez merupakan salah satu pemimpin paling karismatik sekaligus kontroversial. Pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa September 2006, Hugo Chavez pernah menyebut George W Bush, Presiden Amerika saat itu, sebagai setan.
Hugo Chavez tak hanya membenci Amerika saja. Ia pun berteman akrab dengan musuh Negeri Abang Sam: Fidel Castro dari Kuba atau Muammar Qadhafi dari Libya. Ia juga menjalin aliansi erat dengan Iran dan menawarkan dukungan pada Argentina terkait perselisihan menyangkut Kepulauan Falklands dengan Inggris.
Dari sederet pemimpin Indonesia, Chavez begitu menghormati presiden pertama RI, Soekarno. Bahkan, ia kerap menyebut nama Soekarno dalam pidatonya.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Budiman Sudjatmiko, bercerita pernah bertemu pemimpin sosialis itu pada 2008. Ketika itu, Budiman diundang ke acara pelantikan Presiden Paraguay, Fernando Lugo. Budiman dan Hugo Chavez sempat berbincang sejenak.
“Ketika saya memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, Chavez langsung menyebut Konferensi Asia Afrika,” kata Budiman. “Rupanya dia terkesan. Bahkan, sempat menyinggung Gerakan Non-Blok.
Dalam perbincangan itu, Chavez tidak secara langsung memuji Soekarno. Namun, beberapa kali Budiman sempat menyimak pidato Chavez, “Dia sering mengutip ucapan Bung Karno kala mengawali pidatonya.”
Kata Budiman, penyebutan nama Soekarno serta kutipan kalimatnya oleh Chavez menjadi suatu kebanggaan. Hal itu menunjukkan bila Soekarno diakui sebagai pemimpin dunia berpengaruh. “SBY sekalipun tidak pernah menyinggung Bung Karno,” ujar Budiman.

Menyebut George W. Bush sebagai Iblis

Hugo Chavez (Tempo.co)
Hugo Chavez (Tempo.co)
Hugo Chavez adalah salah satu pemimpin yang paling karismatik sekaligus kontroversial di dunia. Dia dicintai rakyatnya namun dibenci Amerika Serikat dan sekutunya. Dialah satu-satunya presiden yang berani menyebut George W Bush, presiden Amerika Serikat saat itu, dengan kata-kata kasar dalam forum resmi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa September 2006.
“Iblis datang ke sini kemarin,” kata Chavez, merujuk pada Bush, yang berbicara di mimbar yang sama sehari sebelumnya. “Dan bau belerangnya masih tercium hingga hari ini.”
Chavez menuduh Bush berbicara “seolah-olah ia memiliki dunia” dan mengatakan seorang psikiater bisa dipanggil untuk menganalisis pernyataan-pernyataannya.
Omongan Chavez itu menjadi berita utama hampir di seluruh media terkemuka dunia.
Chavez adalah seorang mantan tentara yang terpilih sebagai presiden pada tahun 1998, setelah dipenjara selama kudeta yang gagal tujuh tahun sebelumnya.
Usai kemenangan revolusi sosialisme, ia naik menjadi presiden tahun 1998. Ia segera merebut hati rakyatnya, yang sebagian mengkultuskan dirinya bak dewa.
Chavez mempunyai program acara di televisi, Alo Presidente. Penonton tetap mengikuti acara yang berisi resital puisinya yang bertele-tele dengan lagu-lagu dan tarian aneh dengan antusias.
Meski ia sukses mengatasi kemuskinan dengan menggelontorkan banyak dana hasil laba minyak untuk pendidikan dan kesehatan warganya, di bawah Chavez Venezuela makin otokratis. Ia mengubah konstitusi untuk memungkinkan kekuasaan presiden tanpa batas. Ia sangat membatasi kebebasan pers dan rajin  menasionalisasi banyak industri negara.
Sikap bermusuhannya dengan Barat ditunjukkan dengan memjalin persahabatan dengan ‘musuh’ AS, Fidel Castro dari dan Muammar Qadhafi dari Libya, serta menjalin aliansi erat dengan Iran dan menawarkan dukungan pada Argentina terkait perselisihan menyangkut kepulauan Falklands dengan Inggris.
Ejekannya pada Bush tak hanya menyebutnya sebagai ‘setan’. Ia juga menjuluki pria yang membuat keputusan menginvasi Afghanistan dan Iran sebagai ‘Tuan Berbahaya’ alias Mr Danger, dan menuduh Washington mengobarkan semangat ‘melawan teror dengan teror’ di Afghanistan.
Setelah empat operasi dan kemoterapi intensif untuk kankernya, Chavez mempertahankan cengkeramannya pada negara, dengan membuat ‘wasiat’ bagi rakyatnya untuk memilih Wakil Presiden Nicholas Maduro sebagai penggantinya. Setelah dirawat di Kuba sejak Januari, secara mengejutkan ia pulang dan fotonya bersama kedua putrinya terpambang di banyak media. Rupanya, ini adalah isyarat kepulangan abadinya: raganya tak mampu menahan gempuran kanker lebih lama lagi dan menyerah pada maut hari Selasa waktu Venezuela.

Meninggal Dunia

Wakil Presiden Nicolas Maduro mengumumkan bahwa Presiden Venezuela Hugo Chavez meninggal pada 6 Maret 2013. Ia dilaporkan menderita infeksi saluran pernapasan akut kala menjalani perawatan kanker.
Sampai kini penyakit lain yang diderita Hugo Chavez tak diungkap ke publik. Menteri Informasi Ernesto Villegas mengatakan, kondisi Chavez terus menurun sebelum akhirnya meninggal. Chavez, 58 tahun, baru saja kembali ke Venezuela pada bulan lalu. Ia semula menjalani perawatan kanker di Kuba, tetapi tak pernah muncul di hadapan publik lagi.
Warga Venezuela mendesak agar kondisi kesehatan Chavez diumumkan secara terperinci ke publik. Berbagai spekulasi mengenai penyakit Chavez sebenarnya sudah beredar. Chavez, Presiden Venezuela selama 14 tahun, menderita kanker di panggulnya.
Chaves membuka kepada publik tentang penyakitnya pada Juni 2011. Chavez sampai harus dioperasi empat kali, termasuk perawatan kemoterapi dan radiasi. Baru pada Mei 2012 Chavez mengatakan telah sembuh dari kanker tersebut setelah menjalani serangkaian penanganan kesehatan itu. Operasi terakhir berlangsung pada Februari tahun lalu.
Tak lama, pada Desember 2012, Chavez mengumumkan perlu menjalani operasi kanker lanjutan di Kuba. Dia juga menyebut Wakil Presiden Nicolas Maduro sebagai penerusnya. Namun berbagai kabar mengungkapkan Chavez memutuskan nasib negaranya, meski terbaring di rumah sakit.
Wakil Presiden Nicolas Maduro mengatakan, Chavez masih menjalani kemoterapi. Padahal, dalam siaran TV sebelumnya, Maduro mengatakan, Chavez tengah bertahan hidup. Chavez merupakan presiden yang kembali terpilih lewat pemilu Oktober 2012.
[source]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar